Jakarta, 24 Agustus 2026 — Fenomena El Niño bukan penyebab langsung munculnya api dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, kondisi cuaca yang lebih panas dan kering akibat El Niño dapat membuat lahan lebih mudah terbakar sekaligus mempercepat penyebaran api.
El Niño bekerja dengan mengurangi curah hujan dan memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat vegetasi, semak, gambut, serta material organik di permukaan tanah kehilangan kelembapan sehingga menjadi bahan bakar yang lebih mudah terbakar.
Dengan kondisi tersebut, api yang muncul akibat aktivitas manusia dapat berkembang lebih cepat dan lebih sulit dikendalikan. Karena itu, El Niño lebih tepat dipandang sebagai faktor yang memperbesar risiko dan skala karhutla, bukan sebagai pihak yang secara langsung menyalakan api.
Sejumlah kajian dan pernyataan pemerintah menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi salah satu pemicu utama kebakaran. Pembukaan lahan menggunakan api, kelalaian dalam mengelola sumber api, serta aktivitas di kawasan yang rentan dapat menjadi awal terjadinya kebakaran.
Kondisi El Niño kemudian memperburuk situasi. Lahan yang sebelumnya memiliki kelembapan cukup dapat berubah menjadi jauh lebih kering sehingga ketika api muncul, proses penjalarannya berlangsung lebih cepat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas sangat kuat. Fenomena tersebut diperkirakan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dan meningkatkan potensi kemarau yang lebih kering serta panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Risiko karhutla juga diperkirakan meningkat pada periode puncak musim kemarau. BMKG menyebut risiko kebakaran mulai meningkat sejak Juli dan berpotensi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Kementerian Kehutanan pun memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla. Pemerintah mendorong koordinasi lintas sektor, deteksi dini, patroli, pengendalian kebakaran, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Pencegahan menjadi langkah penting, terutama dengan mengendalikan aktivitas pembukaan lahan, menjaga kawasan gambut tetap basah, meningkatkan pemantauan titik panas, serta memastikan masyarakat dan pelaku usaha tidak menggunakan api secara sembarangan.
Fenomena El Niño menjadi pengingat bahwa kondisi iklim dapat memperbesar dampak kebakaran. Namun, munculnya api tetap berkaitan erat dengan sumber pemicu di lapangan. Ketika faktor manusia bertemu dengan kondisi lahan yang sangat kering, risiko kebakaran meluas menjadi jauh lebih besar.
Dengan demikian, upaya mencegah karhutla harus berjalan beriringan dengan mitigasi dampak El Niño. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha memiliki peran penting untuk memastikan api tidak muncul dan, apabila kebakaran terjadi, segera ditangani sebelum meluas.